Kamu memang tidak akan
pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi wanita yang telah kau terbangkan
angannya lalu kau hempaskan begitu keji. Dan tanpa perkataan ‘MAAF’ pun kau
berlagak seakan semuanya baik-baik saja. Seakan tak pernah ada penyesalan
sedikitpun yang terlintas dalam otakmu. Sejahat itukah kau pria yang selalu ku
selipkan dalam doa ku? Aku memang gadis bodoh. Yang tetap menyayangimu, saat
aku tahu bahwa kau tak sebaik dan selugu yang ku kira. Tapi perasaan tetaplah
perasaan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan
dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa
tersentuh hanya dengan perkataan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku.
Sudahkah kau paham? Tentu saja Belum. Apa pedulimu? Aku tak pernah ada dalam
matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu. Dari awal tak banyak memang
yang ku harapkan dengan status ketidakjelasan ini. Tapi hatiku selalu memaksa
untuk tetap bertahan dengan kesandiwaraan yang tengah kau permainkan. Sekilas
aku mencoba untuk menjauh dan menyudahi semua kesandiwaraan ini, tapi perasaan
ini semakin menyiksaku. Harusnya aku dengarkan perkataanmu yang selalu
menyuruhku untuk membuang jauh-jauh perasaan ini, seakan perasaan ini memang
sangat terlarang untuk kita miliki. Apa yang salah dengan kita? Kita sama-sama
mahkluk yang diciptakan Tuhan. Apakah karena kita telah lama menjadi “TEMAN”
bertahun-tahun bersama sampai kau haramkan dan menyiksaku secara perlahan
dengan perasaan yang semakin tumbuh tanpa batas waktu. Sungguh, aku tak ingin
segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kau menghempaskan aku sekeji
ini. Mungkin, semua memang salahku. Yang menganggap semuanya akan berubah
sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah
jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Setiap hari aku berusaha
menerima kenyataan dan perubahan itu. Setiap hari aku mencoba meyakini diriku
bahwa suatu saat pasti aku bisa melupakanmu dan berlagak kita tak pernah
mempunyai perasaan yang sama. Sederhana sekali. Ternyata , dari banyaknya
pengabaian dan rasa sakit yang kau berikan ; aku masih saja bisa mencintaimu.
beberapa hari yang lalu , aku cukup sadar. untuk kedua kalinya kau menyakiti ku dengan
perkataan yang kau lontarkan tanpa kau saring terlebih dahulu. Untuk saat ini
pintaku pada Tuhan untuk lekas sembuh dari luka yang semakin menganga ini. Dan bisa menjalani hari-hariku dengan
semestinya, bersikap netral terhadapmu Seperti dahulu saat perasaan ini belum
muncul.
Teruntuk orang yang
pernah memanggilku “hon” :’) 😂
Modifikasi tulisan @dwitasari
Modifikasi tulisan @dwitasari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar