Malam ini
maafkan kelancanganku yang tidak sengaja membuka akun sosialmu. Yang memang
tidak sepantasnya aku membukanya, karna sekarang aku tidak mempunyai hak apapun
untuk mengecek apa yang kamu lakukan dengan akun sosialmu itu. Sekali lagi
maafkan aku yang telah lancang ini. Saat aku membuka akunmu, aku tidak sengaja
membaca inboxmu dengan (dia) yang sekarang mendampingimu :”
Maafkan aku
yang telah lancang membaca semua yang sedang kalian bicarakan. Maafkan aku. Aku
hanya rindu dengan kamu. Hanya dengan membaca status diakunmu secara diam-diam itulah
aku bisa tau bagaimana kabarmu :” maafkan aku sampai saat ini , masih
meneteskan air mata untukmu. Maafkan aku yang belum bisa menghapusmu dari ruang
hati dan otakku. Maafkan aku yang selalu mengganggu ketentraman hidupmu.
Malam ini ,
aku marah , aku iri , aku rindu , aku cemburu. Aku tidak tahu bagaimana
mengekspresikan perasaan ini. Yang pasti aku meneteskan air mata kembali .
padahal kemarin saat aku mengetahui kamu mempunyai pasangan baru yang jauh
lebih sempurna dibanding aku. Aku sudah berjanji untuk tidak mau tahu tentang
kabar kamu. Tapi hati tidak bisa dibohongi. Aku belum bisa menghapusmu.
Baiklah, aku
akui kamu memang menang. Kamu lebih bahagia dengan dia yang sekarang bisa lebih
membahagiakan kamu. Aku tidak menyangka kamu secepat itu melupakan semua yang
pernah kita lalui bersama.
kamu memang pantas bahagia. Kamu memang pantas mendapatkan yang lebih dari aku. Memang itu inginmu dahulu.
kamu memang pantas bahagia. Kamu memang pantas mendapatkan yang lebih dari aku. Memang itu inginmu dahulu.
Maafkan aku,
jika dahulu saat bersamamu aku kurang membuatmu bahagia dan tidak sesempurna
dia :” aku memang wanita bodoh, yang terlalu egois. Tapi kamu tidak pernah mau
tau dengan perjuanganku yang mati-matian mempertahankan kamu agar kamu tetap
tinggal.
Kuucapkan beribu maaf , jika dahulu aku kurang begitu memperhatikan kamu. Kurang memahami semua keinginanmu. Dan maafkan aku yang selalu berharap bahwa kamu kelak akan menjadi Ayah untuk anak-anakku. Maafkan harapanku :”
Kuucapkan beribu maaf , jika dahulu aku kurang begitu memperhatikan kamu. Kurang memahami semua keinginanmu. Dan maafkan aku yang selalu berharap bahwa kamu kelak akan menjadi Ayah untuk anak-anakku. Maafkan harapanku :”
Aku berharap dia bisa lebih membuatmu bahagia,
bisa membuatmu nyaman. Dan selalu ada saat kamu butuh J aku akan belajar mengikhlaskan kamu
dan merelakan segala yang sudah terjadi diantara kita J
aku tidak akan melupakan segalanya yang pernah kita lalui J biarkan semuanya abadi, biarkan
semua kenangan itu menjadi saksi kita bahwa kita sempat saling menyayangi. Aku
akan berusaha mengikhlaskan kamu bersanding denganNya J meski jujur , berat merelakan semuanya. Aku tidak membencimu
sedikitpun, aku hanya ingin menghilangkan rasa yang masih ada untukmu J aku selalu mendoakan yang terbaik
untuk kamu dan kebahagiaan kamu J aku tidak akan memintamu untuk
kembali pulang. Biarkan tuhan yang menyadarkan kamu kelak J karena cinta itu tidak pernah memaksa,
cinta itu bukan keegoisan. Jika kita mencintai seseorang, biarkan dia bahagia
dengan yang lain meski bukan kita yang membuatnya bahagia.
Terimakasih dahulu kamu telah kembali denganku meski hanya lima bulan. Itu cukup membuatku bahagia, (dulu). Terimakasih atas segala kesabaran dan kasih sayang kamu dahulu. Terimakasih kamu mengajarkanku agar aku tidak terlalu percaya dengan lelaki. Semoga berbahagia dengan pilihanmu :')
Terimakasih dahulu kamu telah kembali denganku meski hanya lima bulan. Itu cukup membuatku bahagia, (dulu). Terimakasih atas segala kesabaran dan kasih sayang kamu dahulu. Terimakasih kamu mengajarkanku agar aku tidak terlalu percaya dengan lelaki. Semoga berbahagia dengan pilihanmu :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar